11/03/2013

Guru kreatif, peserta didik inovatif



Guru kreatif, peserta didik inovatif
oleh : Syahrul Padilah

Dalam perkembangannya pendidikan mengalami perubahan yang sangat progressif dari waktu ke waktu. Karena memang pada dasarnya pendidikan itu adalah seni membentuk manusia, dan dalam proses pembentukan manusia kita tidak bisa melepaskannya dari perjalan zaman yang kian pesat dalam kemajuan dalam segala bidang. Contoh sederhana adalah dalam teknologi, perkembangan teknologi tida bisa dipandang bias dalam singgungannya di dunia pendidikan. Kita mengenal social media dalam dunia teknologi kekinian missal diantaranya adalah facebook. Facebook dalam perkembangannya telah mampu menyihir miliaran penggunanya. Dalam laporan yang dibuat oleh kompas, terdapat sekitar 1,2 miliar pengguna facebook, dan hampir dipastikan masyarakat telah sangat familiar dengan facebook terutama masyarakat perkotaan tidak terkecuali peserta didik yang usia mereka masih sangat belia.
Perkenalan peserta didik dengan teknologi sangat cepat, dan jika tidak terimbangi dengan progresiitas pendidikan maka akan terjadi kesenjangan. Agar tidak terjadi kesenjangan ini maka dibutuhkan sosok seorang guru yang menjadi salah kunci keberhasilan dalam dunia pendidikan untuk dapat memanfaatkan situasi perkembangan ini menjadi sarana pemacu pendidikanm sehingga pendidikan mendapatkan tempatnya dalam perjalanan zaman.
Dibutuhkan guru yang mampu memposisikan diri dengan tepat, dan untuk tepat dalam memposisikan diri tentu dibutuhkan guru yang juga mampu memantaskan diri menjadi guru masa depan yang indentik dengan guru kreatif. Dengan guru kreatif inilah akan terlahir para peserta didik yang inovatif yang akan mengerti menajalani rentang perjalan waktu yang dimiliki di masa akan dating.
Dalam Undang Undang no. 20 pasal 3 dikatan: Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 






Banyak penelitian menunjukkan bahwa kreatifitas dapat dipelajari dan dapat diterapkan dimana saja, sehingga pendidikan harus diarahkan pada penguatan keterampilan kreatif. Dyers, J.H. et al [2011], Innovators DNA, Harvard Business Review:
       2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, 1/3 sisanya berasal dari genetik.
       Kebalikannya berlaku untuk kemampuan kecerdasan yaitu: 1/3 dari pendidikan, 2/3 sisanya dari genetik.
       Kemampuan kreativitas diperoleh melalui:
-          Observing [mengamat]
-          Questioning [menanya]
-          Experimenting [mencoba]
-          Associating [menalar]
-          Networking [Membentuk jejaring]

Dari tujuan dan pendidikan nasional yang telah dicanangkan oleh pemeritnah dan pandangan para ahli, maka kebutuhan akan guru kreatif dalam pengelolaan pendidikan dan program pembelajaran sangat mutlak. Adapun beberapa hal yang dapat berkreatiftas sebagai seorang guru dapat dilakukan dan melakukan beberapa hal berikut:

Pertama, guru harus menjadi insan pembelajar. Ya dengan terus menerus kita belajar maka seorang guru akan menemukan banyak pengetahuan dan secara tidak langsung akan mengasah daya kreatifitasnya. Belajar tentunya tidak terbatas ruang dan waktu serta sarananya, dalam perkembangan teknologi saat ini, pengetahuan dan informasi semakin mudah di akses dan tidak ada sekat. Hanya dalam penyerapan perlu mendapatkan porsi yang seimbang. Beberapa media pembelajaran yang menggunakan social media dan media informasi biasanya lebih mengarahkan guru kepada sosok yang memiliki keluasan informasi, dan jika hanya mengandalkan proses ini, maka akan di khawatirkan akan terjebak pada sosok informan tanpa menguji kevalidan informasi. Untuk itu juga dibutuhkan sosok guru yang mau mebaca buku, karena buku adalah sara penambah pengetahuan. Dengan sosok guru yang memiliki keluasan informasi dan kedalaman pengetahuan tentu akan menjadi mudah menjadi guru yang kreatif.

Kedua¸memperbanyak sarana belajar. Mencipatakan suasana pembelajaran yang menyenangkan adalah idaman semua pendidik. Dana proses pembelajaran yang menyenangkan itu tidak boleh terpaku pada keterbasana sarana pembelajaran. Begutu banyak sumber belajar yang ada disekitar sekolah dan lingkungan sekolah yang tentunya akan mampu mendorong siswa akan lebih inovatif dalam megembangkan bahan ajar dan melakukan proses pemelajarn yang scientific dengan pola: mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring

Ketiga, Memandang semua anak juara, Thomas Alfa Edison adalah satu dari miliaran anak di dunia ini yang sukses memunculkan talenta ajaib dan spektakulernya. Semua kita tahu tidak satu orang gurupun pada saat ini yang mampu membaca talenta Thomas yang tersembunyi, tapi orangntuanya mampu menemukannya. Begitu juga di sekian banyak sekolah dengan jutaan anak didalamnya. Mereka adalah anak anak manusia yang terlahir dengan berjuta telenta yang mesti ditemukan. Dan ini akan terjadi jika setiap guru mampu dengan sabar membimbing dan mendidik serta mengarahkan setiap perserta didiknya menemukan bakatnya. Dan guru yang mampu melakukan ini adalah guru yang memandang setiap peserta didiknya juara. Sosok guru seperti ini tidak akan pernah mau menjustifikasikan peserta didiknya ke kotak kotak sesuai keinginan guru, mengukur anak dari satu sisi alat ukur semata dan memandang anak seperti pandangan kaca mata kuda.


Ketiga hal tersebut di atas adalah sebagian kecil dari sekian banyak cara menjadi guru kreatif, semoga kita sebagai guru akan menjadi guru kreatif.

SHARE THIS

Author:

Terima kasih sudah membaca Blog SMP Juara Pekanbaru. Selalu berikan donasi anda kepada Rumahzakat.