5/10/2012

pemaknaan emperikal pendidikan


PEMAKNAAN EMPIRIKAL PENDIDIKAN 
SYAHRUL PADILAH, S.Pd*

 Seiring perjalanan waktu dan perkembangan manusia bahkan sampai dunia ini kiamat, pendidikan adalah instrument yang dinamis dalam mengiringi perjalanan hidup manusia. Hal ini bisa kita lihat dari proses perjalanan hidup manusai, mulai dari Nabi Adam hingga kita saat ini, termasuklah didalamnya perkembangan peradaban manusia di bumi nusantara ini. Manusia mulai belajar dari bagaimana mana mereka mempertahankan hidup, ini tergambar seperti mereka mengumpulkan makanan (food gathering), pada pekembangan selanjutnya manusia yang hidup pada saat itu mulai berfikir kalau model dan prilaku hidup mereka terus mengandalkan dari makanan yang mereka kumpulkan maka, hal itu dikhawatirkan akan mengancam keberlangsung hidup mereka.
Maka dimulailah fase baru dari kehidupan mereka, dimulai dengan memanfaatkan benda yang ada di sekitar mereka seperti batu, dengan bebekal batu inilah mereka mulai mengembangkan cocok tanam (farming) dengan cara menebang pohon kayu untuk selanjutnya memanfaatkan lahan yang ada tersebut untuk bercocok tanam. Secara sederhana kita bisa asumsikan bahwa itu terjadi karena adanya perkembangan pemikiran otak bawah alam sadar mereka untuk mempertahankan hidup. Artinya ada proses pembelajaran yang terjadi dalam perjalan hidup mereka yang diperoleh dari pengalaman.
Bapak pendidikan nasional Kihajar Dewantara sebagaimana dikutif oleh Imam Burnadif dalam bukunya filsafat pendidikan menjelaskan bahwa masyarakat yang layak bagi terselenggaranya kehidupan dan pergaulan yang wajar adalah masyarakat yang tertib, damai, sejahtera, selamat dan bahagia. Dan pendidikan dalam konteks ini memiliki legitimasi yang kokoh dalam menciptakan kondisi masyarakat yang layak tersebut. Persoalan yang muncul dari ungkapan kihajar yang penuh makna itu adalah apakah Indonesia sudah memasuki tahap kelayakan tersebut dengan model pendidikan nasional saat ini, jawabannya tentu ada pada kita semua. Kita bisa lihat dan saksikan, negri ini memiliki begitu banyak ekonom dan profesor handal di bidang ekonomi yang tentunya paham betul bagaimana persoalan ekonomi nasional baik dari sektor makro maupun mikro. Tidak hanya itu lembaga-lembaga ekonomi yang bersifat non government organization-pun bermunculan yang juga diisi oleh para ekonom handal. Tapi toh pada kenyataannya perekonomian nasional kita tidak juga kunjung membaik. Kalaupun ada perbaikan itu lebih mengacu pada skala makro sementara skala mikro (persoalan perekonomian masyarakat kecil) seakan masih jauh dari sentuhan-sentuhan perbaikan, lantas dimanakah letak persoalannya?.

Perkembangan pendidikan
Marilah sejenak kita mengambil hikmah dari sejarah, kita semua mungkin kenal dengan  kaisar Jepang ke 122 yaitu Meiji. Tenno meiji (kaisar Meiji) yang ketika dinobatkan mejadi kaisar tengah berusia 16 tahun, sungguh usia yang belia, tetapi seluruh dunia mengenalnya. Disaat beliau menjadi kaisar era modernitas Jepang mulai dibuka dan semua gerakan Meiji ini dikenal dengan istilah Restorasi meiji. Dimulailah proses reformasi dengan pendidikan sebagai mata tombak. Pendidikan
menjadi hak dan kewajiban semua warga. Kemudian, reformasi itu yang disebut
restorasi, sejak itu restorasi Jepang itu disebut dengan Restorasi Meiji.
Restorasi Jepang itu berjalan sangat cepat dan efisien tahun 1853. Menjelang
akhir abad ke 19 Jepang sudah berhasil menjadi kekuatan militer dengan angkatan
laut yang sangat tangguh sehingga dapat mengalahkan secara mutlak armada
raksasa Rusia di Selat Tsushima, menyapu bersih kepulauan Sachalin, mengambil
Korea dan Semenanjung Liau-Tung dari Rusia, serta Port Arthur dan Dairen
(Wells, 1951). Meiji begitu sangat mengagumkan dan menyanjung tinggi nilai pendidikan dan juga guru (sense), ditambah lagi memang adanya budaya pembelajar dari bangsa Jepang. Para aktor  yang sangat gigih memperjuangkan reformasi itu berjumlah tidak lebih dari 100 orang muda yang cerdas dan berdedikasi tinggi. Titik berat dari proses restorasi itu adalah di bidang pendidikan. Banyak sekali pemuda Jepang dikirimkan ke luar negeri dan Jepang banyak mengambil sistem Jerman dalam segala proses kehidupannya.
Di negri ini terkhusus pada masa Orde Baru di bawah kepemimpinan soeharto yang memimpin selama 32 tahun, pada kurun waktu itu Indonesia seakan menemukan ruh (spirit) dalam proses pembangunan dan indonesia muncul sebagai macan Asia yang disegani di kawasan Asia tenggara. Namun tampak depan tidak seperti tampak belakang, pondasi pembangunan Indonesia yang dibangun selama 32 tahun seakan keropos hanya dengan terjangan reformasi dan krisis ekonomi. Tidak hanya indonesia, pada saat yang bersamaan beberapa negara di Asia juga mengalami persoalan yang sama yaitu terjangan dan himpitan krisis ekonomi diantaranya adalah Korea Selatan. Tidak perlu berlama-lama, Korea langsung bangkit dari keterpurukan hantaman krisis ekonomi dan terbukti Korea Selatan langsung bangkit dan mampu menyelesaikan pesoalannya, sementara bangsa kita sampai hari ini masih berkutat pada persoalan itu. Kalaulah kita tarik benang merahnya, maka kita bisa menyimpulkan dari apa yang terjadi di jepang dan Korea Selatan, semata-mata ada pada penempatan pendidikan di posisi yang pas.
Perjalanan pendidikan dibumi nusantara ini begitu sangat menyisakan sejuta tanya, contoh sederhananya adalah Malaysia yang dulu banyak yang menuntut ilmu di negri ini namun kemudian menjadi guru, dibuktikan dengan tingginya minat pelajar negri ini untuk belajar disana namun tidak sebaliknya, selain faktor yang tentunya adalah kamajuan dibidang pendidikan. Tragisnya, dalam semangat pembangunan lintas sektoral, sektor pendidikan merupakan lahan yang terabaikan. Hasil dari pengabaian yang berkesinambungan itu adalah terdaftarnya negara kita pada penelitian UNDP mengenai Human Development Index (Indeks Sumberdaya Manusia) dalam urutan ke 109 dari 117 negara dunia
Saat ini, begitu banyak bermunculan metode pembelajaran dan yang terkenal itu adalah metode active learning. Namun demikian apapun metode yang diajarkan, adalah bagian dari strategi perbaikan pendidikan. Ketika penyelenggaraan pendidikan yang terpenting adalah bagaimana penyelenggaraan menyentuh pertama, memaksimalkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik secara proporsional sebagai bekal peserta didik untuk mencapai kemandiriannya. Kedua, penumbuhan sistem nilai dalam diri sebagai bekal sarana agar peserta didik mampu menjadi pribadi unggul dan mampu manatap lingkungan sekitarnya sebagai tempat ruang berinteraksi dan mengimplementasikan nilai-nilai yang diperoleh dari sistem pendidikan.
Dengan mengacu kepada kedua acuan yang sebutkan diatas, maka pendidikan akan masuk pada fase mikro dalam menyikapi sorotan persoalan pendidikan sebagai bentuk peralihan dari extended orientation.
Dari itu semua, pemaknaan yang perlu ditumbuhkan dari dunia pendidikan adalah bagaimana kita semua memandang pendidikan dari perspektif rasional kita. Pendidikan bertujuan menolong para siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek yang mereka temukan dengan keadaan proses berfikir mereka. Maka dipelukan kaitan yang bermakna, melakukan pekerjaaan yang berarti, melakukan pembelajaran yang teatur dan diatur sendiri, berfikir kreatif dan kritis serta mampu menempatkan nilai diri sebagai prinsip hidup dalam tataran normatif dan aplikasi. Karena keberadaan perserta didik merupakan bagian dari masyarakat baik dalam skala makro maupun mikro, dan keberadaannya juga selalu dilingkupi oleh nilai-nilai dan norma-norma. Kemudian  perserta didik yang hadir didalamnya akan mengalami kontinuitas, maka disini jugalah peranan pendidikan menjadi ruh pembentukan pribadi, pribadi yang berfikir global bertindak local think globally act locally. Sebagai bentuk kesimpulan mari kita lihat ungkapan dari Alfred North Whitehad (1929), pentingnya pengetahuan terletak pada kegunaannya, pada penguasaan kita terhadap pengetahuan itu. Dengan kata lain, terletak pada kearifan, kearifan adalah suatu yang berurusan dengan penanganan pengetahuan, pemilihan pengetahuan untuk menetapkan hal-hal yang relevan, dan penerapannya untuk nilai dari pengalaman langsung.

*) Penulis adalah peminat pendidikan
Dan pendidik di sekolah dasar islam terrpadu al-fitiyah pekanbaru



PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER
SYAHRUL PADILAH, S.Pd*

Dewasa ini perubahan paradigma pendidikan yang paradigmatik kian gencar di selenggarakan guna mengatasi problem dasar yang menerpa bangsa ini yang dikenal memiliki karakteristik keindonesian yang bersifat ramah, memiliki tenggang rasa yang tinggi, kesopanan, rendah hati, suka menolong, dan solidaritasn atar sesama yang menjadi jati diri bangsa yang telah melekat berabad-abad lamanya. Namun sangat disayangkan hal ini telah terkikis habis oleh penetrasi budaya yang menghantam bak tsunami yang meluluhlantakkan jati diri yang melekat itu pada setiap insan bangsa ini. Bahkan, hal ini di perparah dengan terjadinya pendangkalan aqidah dan pemahaman moralitas dan mentalitas sehinga efek domino dari semua ini bisa di saksikan dalam perjalan bangsa ini.

Tentunya hal ini menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan. Dan penyelenggaraan sistem pendidikan terpadu menjadi pilihan ditengah maraknya penetrasi budaya yang ada. Sistem pendidikan tepadu kini telah muncul menajdi ikon pendidikan yang dilembagakan. Dengan kata lain dimensi pendidikan dengan sistem terpadu adalah pilihan yang diperhatikan dalam rangka membangkitkan moralitas sebagai suatu sistem nilai adat ketimuran dan keindonesian. Meningkatkan kecerdasan anak dan siswa tentunya menjadi harapan setiap guru dan orangtua. Namun perlu di pahami bahwa kecerdasan itu bukan hanya sebatas kecerdasan secara intelektual, misalnya siswa atau anak dikatakan cerdas apabila selalu meraih ranking teratas dikelas dan selalu memenangkan lomba yang mengacu kepada kecerdasan intelektual semata. Bahkan kebayakan orang tua akan bangga jika anaknya mampu meraih prestasi disatu sisi bidang akademik, bersekolah disekolah yang prestatatif dan representatif, hingga bersekolah keluar negri. Dan akhirnya banyak diantara para orang tua mengeyampingkan proses pendalaman spiritual dan mentalitas anak sebagi bentuk pendidikan karakter anak.

Seperti yang terungkap dalam sebuah seminar yang diliput oleh Riau Pos (5/2/08). Ada orang tua yang menginginkan anaknya untuk prestasi secara akademik, hingga orang tuanya mencari sekolah prestatif kemudian memasukkan anaknya untuk mengikuti program belajar tambahan di berbagai macam bidang studi atau pelajaran. Secara kasat mata dapat dilihat perkembangan sianak dengan meraih prestasi akademik yang luar biasa, namun akhirnya siswa tersebut terkena penyakit yang diakibatkan stress yaitu mag yang akut. Kalau sudah seperti ini kejadiannya, apa yang bisa diharapkan selanjutnya?

Pendidikan Karakter
Pendidikan masa depan adalah pendidikan yang memiliki orientasi  kecerdasan majemuk yang lahir karena suka rela, tumbuh dari dalam dan bukan ancaman dan atau ketakutan karena sesuatu, dan juga tidak mengabaikan ketegasan dalam proses pendidikannya. Menurut Lickona (1992), pendidikan krakter yang benar harus melibatkan aspek "knowing the good" (moral knowing), ”desiring the good" atau "loving the good" (moral feeling), "acting the good" (moral action). Sebab tanpa melibatkan tiga aspek tersebut manusia akan sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh suatu paham. Oleh karena itu, pendidikan karakter dituntut memberikan perhatian kepada tiga komponen karakter yang baik yaitu; Component of good character, yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan moral.
Dalam konsep integrated school (sekolah terpadu) pemahaman tiga komponen karakter ini menjadi bagian yang sudah menyatu dalam program pembelajarannya. Ditambahkan oleh Lickona, konteks karakter yang ada akan meliputi; moral awereness (kesadaran moral), knowing moral values (pengetahuan nilai-nilai moral), perspektif taking (menggunakan sudut pandang moral), dan self knowledge (pengetahuan diri). Sementara untuk pembentukan moral feeling meliputi enam aspek yang diperlukan untuk menjadi manusia yang memiliki karakter yaitu pertama conscience (kesadaran), kesadaran ini terkait dengan sikap mental manusia sebagai makhluk sosial, sehingga dengan ditumbuhkan rasa kesadaran seseorang, maka seseorang akan menemukan sikap mental yang baik, misal seseorang tidak akan lagi segan untuk membantu orang lain, hal ini dikarenaka seseorang memahami secara sadar bahwa ia adalah bagian dari orang lain yang suatu saat memerlukan orang lain. Dan ketika kesadaran ini telah tumbuh maka untuk berbuat dan besikap yang menjunjung nilai kemanusian sekaligus sebagai makhluk tuhan tidak lagi sulit untuk melaksanakannya. Sebagai mana pepatah mengatakan bahwa barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal siapa Tuhannya. Kedua,  self-esteem (kepercayaan diri). Aspek yang kedua ini terkait dengan pengaruh psikologi seseorang untuk mempercayai dirinya yang mengarahkan seseorang untuk bersikap think fresh do the best. Model manusia itu tebentuk dari masa ia masih kanak-kanak, jika sedari kanak-kanak sudah ditempa untuk percaya diri dengan berbagai model pembelajaran dan tumbuh karena kesadaran, ini akan menjadi sistem nilai dan prinsip bagi sianak dan tentunya akan berbeda jika kepecerdayan diri si anak di tumbuhkan dengan karena keterpaksaan, misalnya jika ia tidak maju atau melakukan sesuatu maka ia akan dihukum. Ketiga empathy (merasakan penderitaan orang lain), sikap seperti ini sudah menjadi pelajaran yang lama, bahkan sewaktu kita dulu masih bersekolah di sekolah dasar dengan nama pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, namun sangat disayangkan nilai-nilai yang diajarkan tidak melekat dalam sistem nilai hidup bangsa ini. Dengan mencoba menumbuhkan kesadaran dan kepercayaan diri maka akan ada efek yang tumbuh bahwa ada integrasi antara seseorang dengan orang lain yang ketika ada orang lain yang menderita perasaan itu dengan sendirinya akan tumbuh secara sadar. Keempat loving the good  (cinta kepada kebaikan) mencintai kebaikan senatiasa harus mutlak ditumbuhkan. Dengan disentuhnya perasaan dengan menamkan nilai yang mentranspormasi pemahaman tentang berbuat kebaikan akan menumbuhkan aspek afeksi seseorang. Kelima self kontrol (kontrol diri) dalam kontek ini ada arahan untuk bagaimana setiap kita mengarahkan sikap diri dalam berbagai tindakan. Keenam humanility (kerendahan hati). Rendah hati merupakan aspek penting yang perlu mendapatkan porsi penekanan dalam sikap diri seseorang.

Komitmen Kolektif
School are born from, live within and are committed to the community. Slogan ini menegaskan kepada kita semua bahwa komunitas masyarakat termasuk didalamnya adalah orangtua yang mempunyai peran strategis dalam mendukung program sekolah ataupun pendidikan. Proses dari apa yang direncanakan oleh para orang tua dan guru haruslah menjadi komitmen kolektif, artinya harus ada political will dari orang tua dan guru dalam mewujudkan cita-cita pembentukan para perserta didik. Sangatlah tidak etis ketika keinginan itu tidak dibarengi oleh usaha bersama oleh orang tua dan guru. Ditengah-tengah masyarakat kebanyakan, telah menjadi memori kolektif
Seharusnya dengan adanya berbagai sorotan tehadap berbagai persoalan pendidikan dan para siswa, seyogyanya menggugah komitmen bersama untuk memberikan nilai edukasi dalam berbagai aspek secara masimal guna pewujudan harapan yang ada. Selain lembaga sekolah yang dituntut secara proakif melakukan transformasi bagi para siswa, orangtua sebagai stakeholder juga diharapkan dapat memberikan informasi dalam rangka pemutakhiran program pendidikan.
Terkait dengan orangtua, Rohner ahli psikologi pendidikan mengatakan bahwa seorang anak memiliki prilaku baik atau buruk didasarkan atas cara pengasuhan yang diberikan ibunya, anak-anak yang diasuh dengan cara diterima (acceptance) akan menjadi anak yang tumbuh dan berkembang lebih baik ketimbang anak yan diasuh dengan cara ditolak (rejected).
Atas dasar landasan inilah, maka diperlukan kesadasaran dan komitmen kolektif unsur-unsur dan para stakeholder untuk menciptakan rangkaian pendidikan yang sistemik bukan linear. Sehingga upaya terobosan apapun yan dilakuakan atau ditelurkan dalam dunia pendidikan anak berpengaruh optimal dan akan ada timbal balik tentunya.


5/08/2012

Rumah Zakat Luncurkan SMP Juara Pekanbaru

PEKANBARU. Pendidikan berkualitas sesuai standar mutu nasional dirasakan perlu agar tercipta generasi muda yang handal. Namun disayangkan, belum seluruh kalangan yang dapat menikmati pendidikan seperti itu, terutama bagi anak-anak yang kurang beruntung jika diukur dari kondisi ekonomi orang tua mereka. Dengan menggunakan dana bantuan dari masyarakat, Rumah Zakat mencoba untuk mewujudkan keinginan anak-anak kurang beruntung tersebut dengan membangun sekolah gratis, SMP Juara yang diresmikan langsung wakil wali kota Pekanbaru, Selasa (17/4).

“Keberadaan sekolah ini sangatlah berarti bagi anak-anak yang kurang beruntung untuk merajut mimpi mereka dimasa yang akan datang,”ungkap  Muhammad Sobirin dari Rumah Zakat Pusat  usai peresmian. Secara nasional, SMP Juara Pekanbaru merupakan sekolah ke 13 yang dibangun Rumah Zakat.  Sobirin optimis, sekolah yang beralamat di Jalan Warta Sari Kelurahan Tangkerang Selatan Kecamatan Bukit Raya ini,  dapat menghadirkan pendidikan berkualitas dan mampu bersaing dengan sekolah swasta berbayar lainnya. Hal itu disampaikan mengingat, Rumah Zakat selalu menghadirkan pelayanan yang profesional kepada mustahik amanah dari para donatur luar biasa mereka.

“Meskipun  sekolah ini gratis, kami tetap optimis untuk mengembangkan Sekolah Juara Pekanbaru agar lebih bersaing lagi dengan sekolah swasta lainnya,” ungkapnya Sementara itu, Wakil Walikota Kota Pekanbaru Ayat Chahyadi mengungkapkan sangat menyambut baik dengan kehadiran SMP Juara Pekanbaru tersebut, karena sekolah ini merupakan bagian dari partisipasi lembaga swadaya masyarakat tingkat Nasional untuk cabang Pekanbaru.

“Kita sangat berterima kasih kepada Rumah Zakat yang sudah ikut berpartisipasi dalam mencerdaskan bangsa. Sehingga, walaupun seorang anak tidak mempunyai dana untuk melanjutkan sekolahnya, paling tidak anak-anak yang kurang beruntung dapat melanjutkan pendidikan di sekolah ini,”jelasnya.

Ayat juga menambahkan,  seperti tertuang dalam undang-undang penyelnggara pendidikan nasional,  penyelenggaraan pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, namun juga tanggung jawab seluruh masyarakat. “Makanya dibutuhkan kerjasama dan partisipasi dalam hal meningkat mutu pendidikan yang ada di Indonesia, khususnya di Pekanbaru,” imbuh Ayat. ***

Newsroom/riaunews.com
Pekanbaru

Sumber berita http://www.riaunews.com/spot/?p=265