3/05/2013

Peran Guru dalam Menyosong Kebangkitan Indonesia




Peran Guru dalam Menyosong
Kebangkitan Indonesia
oleh : Syahrul Fadilah, S.Pd (kepala Sekolah SMP Juara Pekanbaru)

Indonesia adalah Negara dengan kepemilikan pulau terbanyak di dunia, Data jumlah pulau di Indonesia yang sering diyakini selama ini adalah sejumlah 17.508 pulau dan ada yang menyebutkan 17.480 pulau. Namun tidak sedikit yang (ragu-ragu) dan menyebutkan jumlah pulau di Indonesia dengan kalimat “lebih dari 17.000″. belum lagi kergaman budaya, suku dan etnik yang kesemuanya ini apalabila di kapitalisasi secara komrehensif bukan tidak mungkin akan menjadi potensi kekuatan yang dahsyat. Hal ini sebagai mana yang diramalkan oleh McKinsey Global Institute, dimana pada tahun 2012, ekonomi Indonesia berada di posisi 16 besar dunia. Diramalkan Indonesia bakal meroket ke posisi tujuh ekonomi besar dunia pada tahun 2030. Ramalan McKinsey Global Institute (MGI) yang tertuang dalam “The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential” pada 18 September 2012 itu, juga mengatakan pada tahun tersebut peluang bisnis bagi sektor swasta di Indonesia bakal mencapai USD 1,8 miliar.
McKinsey memprediksi ekonomi Indonesia pada tahun 2030 akan tumbuh dengan topangan empat sektor utama, yakni sektor jasa, pertanian, perikanan, dan sumber daya alam. Sementara itu, pada tahun tersebut, McKinsey memperkirakan tingkat daya beli masyarakat Indonesia juga meningkat dari 45 juta menjadi 90 juta. Masyarakat konsumen adalah golongan konsumen yang memiliki pendapatan lebih dari USD 3.600—terkait dengan kemampuan daya beli. Pertumbuhan ini, sambung McKinsey, bakal terus naik bila pemerintah Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan ekonominya antara 5-6 persen.
Saking optimistisnya McKinsey dengan perekonomian Indonesia, negara berkembang lain seperti Brazil, Mesir, maupun Vietnam yang saat ini juga cukup berbinar ekonominya, peningkatan masyarakat konsumennya hanya tumbuh setengah dari jumlah masyarakat konsumen Indonesia pada periode yang sama.  Sementara itu,  McKinsey juga memperkirakan imbal dari bisnis jasa bisa menciptakan 7,7 persen selama setahun dengan nilai USD 1,1 triliun. Angka ini meningkat bila dibandingkan dengan tahun lalu sebesar USD 260 miliar.  Peningkatan ini menunjukkan porsi kontribusi sektor jasa pada produk domestik bruto (PDB) bakal melambung dari 61 persen menjadi 65 persen

Penyiapan infrastruktur dalam menyongsong kebangkitan ekonomi Indonesia
Berbicara infrastruktur dalam menyongsong kebangkitan ekonomi Indonesia, tidak hanya sekedar membicarakan infrastruktur fisik semata, namun juga infrastruktur dari pemberdayaan sumber daya manusianya. Pembangunan infrastruktur fisik dan SDM harus berjalan seiring dan bersinergi. Bahkan jika semua stakeholeder berkomitmen maka perihal pembangunan Sumber Daya Manusia adalah agenda penting dan mendesak. Sebanyak apapun kekayaan yang dimiliki, sehebat apapaun infrastruktur fisik yang ada jika tidak di topang oleh Sumber Daya Manusia yang handal dan mumpuni akan menghasilkan output yang tidak maksimal atau bahkan bisa menghasilkan kegagalan. Mempersiapkan kompetensi SDM sejak dini merupakan hal yang sangat diperlukan  untuk mampu bersaing memenangkan dan memperebutkan kesempatan kerja yang terbuka di berbagai bidang pekerjaan dan profesi .
Dimasa yang akan dating kedudukan SDM bukan hanya sebagai alat produksi tetapi juga sebagai penggerak dan penentu berlangsungnya proses produksi dan segala aktivitas yang melekat dalam proses pembangunan. SDM memiliki andil besar dalam menentukan maju atau berkembangnya suatu bangsa. Oleh karena itu, kemajuan  suatu bangsa ditentukan pula bagaimana kualitas dan kapabilitas SDM di dalamnya.

Peran Guru dalam menyonsong kebangkitan ekonomi indonesia
Apa yang sudah di ramalkan dan diprediksikan oleh Mc Kinsey dapat kita jadikan acuan dalam mengelola persiapan dengan segala multi player effect-nya. Siap ataupun tidak siapnya kita, apa yang diprediksikan itu akan hadir, berbagai peluang akan muncul, dan apabila kita berkaca kepada kondisi saat ini tentu masih banyak persoalan yang harus kita perbaiki agar kita benar benar siap menyongosng kebangkitan itu, dan kita semua menjadi pemain bukan menjadi penonton.
Saat ini, kita juga menyadari bahwa untuk mencapai kesuksesan kebangkitan Indonesia itu Indonesia membutuhkan banyak tenaga ahli dan kaum wirausahan. Dengan berbagai Kenyataan, hingga tahun 2012 Indonesia masih sangat kekurangan tenaga ahli. Indonesia membutuhkan sekitar 25 ribu insinyur dan ribuan teknokrat. Padahal tenaga ahli ini sangat diperlukan untuk mengolah sumber daya alam, mengembangkan pertanian dan perikanan serta melaksanakan usaha di bidang jasa yang menjadi penopang masa depan ekonomi Indonesia seperti dinyakan McKinsey di atas.
Tentu saja, para gurulah yang bisa menjawab tantangan, menghasilkan para tenaga ahli tersebut. Kenapa para guru? Sebab kita bicara tahun 2030, bicara soal masa depan. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana menyiapkan tenaga ahli untuk mengelola Indonesia di tahun 2030 tanpa guru. Di tangan para gurulah, mereka yang akan menjadi tenaga ahli itu memperoleh pendidikan dan pengajaran!
Siapakah mereka yang akan menjadi tenaga ahli di tahun 2030 itu? Mereka adalah penduduk Indonesia yang kini berusia antara 5 hingga 20 tahun dimana 99%-nya merupakan murid-murid SD hingga SMA. Tak tanggung-tanggung, jumlah mereka mencapai sekitar 100 juta orang. Sebab, data tahun 2010 menunjukkan bahwa struktur penduduk Indonesia terdiri dari dari yang berusia 0-9 tahun berjumlah sekitar 45 juta; 10-19 tahun sekitar 43 juta; dan 20-29 sekitar 41 juta.
Benar, ada sekitar 100 juta siswa-siswi yang siap dijadikan tenaga ahli guna mengelola Indonesia di tahun 2030. Andaikan kita bisa menghasilkan separuh saja dari jumlah itu, Indonesia akan memperoleh 50 juta tenaga ahli hingga bukan mustahil ramalan McKinsey itu bisa menjadi kenyataan. Dan di tangan para gurulah kini harapan itu tergenggam.
Betul, yang kita butuhkan memang tenaga ahli, bukan lulusan SMA apalagi SD. Akan tetapi masa-masa menjadi siswa mulai dari SD hingga SMA bukan saja tidak bisa dilompati begitu saja melainkan pula menjadi kontinum waktu yang sangat penting dalam membentuk karakter, pengembangan landasan pengetahuan, dan penyemaian keterampilan.
Guru adalah back bone penyiapan SDM yang handal
Betapa strategisnya peran guru dalam membentuk Indonesia yang lebih baik itu, utamanya dari perspektif pengembangan sumberdaya manusia. Meski bukan satu-satu faktor, sejarah membuktikan bahwa guru dalam arti yang seluas-luasnya menjadi unsur yang menentukan bagi keberhasilan sebuah bangsa. Konon, ketika Jepang luluh-lantak setelah dibom atom pada tahun 1945, pertanyaan yang meluncur dari Kaisar Hirohito bukanlah seperti apa dan berapa kerusakan yang terjadi melainkan berapa orang guru yang masih tersisa?
Untuk itulah kompetensi guru harus senantiasa ditingkatkan dan terus membangun paradigma guru yang sebebarnya. Guru bukan lagi hanya sekedar pendidik didalam ruang ruang kelas, tapi guru harus menjadi fasilitator dan motivator bagi terwujudnya SDM yang handal. Guru harus memahami bahwa dimasa yang akan depan dan dalam proses menyongsong kebangkitan bangsa yang dibutuhkan bukan lagi manusia manusia robot menutur istilah pak muif chatib, tetapi manusia modern yang mampu menyelesaikan tantangan yang ada dan mampu menterjemahkan setiap persoalan kedalam bahasa penyesalian dengan solusi secara optimis bukan bahasa bahasa skeptis dan ketidak berdayaan karena kekakuan dalam memahami persoalan yang dihasilkan dari paradigma pengajaran pola pola sempit.
Peningkatan kualitas guru menjadi jawabannya atas segala tantangan dan problematika sumber daya manusia yang ada. Tapi apakah peningkatan dan penataan paradigm guru itu harus senantiasa muncul dari luar atau eksternal guru, ibarat paku setelah di pukul baru tertancap di bidang yang dipakukan atau harus dimunculkan dari diri guru itu sendiri akibat dari perenungan yang mendalam atas tugas peranan yang dimilikiya sebagai guru. Maka dalam hal ini, kedua proses itu penting baik internal maupun ekternal.
Tantangan, penyedian fasilitas dan trigger pihak pihak eksternal adalah bagian dari stimulasi untuk para guru dalam meningkat kualitas dirinya. Namun proses inisiasi pewujudan guru yang handal itu sendiri, hadir dari diri guru itu sendiri. Setidaknya insiasi yang muncul itu dituangkan dalam istilah sekolah. Pertama, suku kata pertama dari sekolah adalah SE, maka kita dapat mengistilahkan SE ini dengan istilah semangat. Apa itu semangat, Semangat adalah perasaan yang sangat kuat yang dialami oleh setiap orang. Namun, tujuan utama membicarakan konsep semangat dalam buku ini ialah untuk menguak perbedaan antara semangat yang dialami dalam masyarakat secara umum dan semangat yang dibicarakan dalam al-Qur'an kepada manusia.
Semangat, dalam pengertian umum, digunakan untuk mengungkapkan minat yang menggebu dan pengorbanan untuk meraih tujuan, dan kegigihan dalam mewujudkannya. Apakah penting atau tidak, setiap orang punya tujuan yang ingin dia raih sepanjang hidupnya. Antusiasme, yang sering ditujukan untuk keuntungan material, juga mengemuka ketika nafsu keduniaan dibicarakan. Sebagian orang berusaha untuk menjadi kaya, untuk memiliki karir yang cemerlang atau jabatan yang prestisius, sementara yang lain berusaha untuk tampil lebih unggul atau untuk meraih prestise, penghormatan, dan pujian.
Maka dari itu guru harus senantiasa memiliki semangat, semangat yang terus mengalir dalam dirinya yang kemudian dapat dialirkan keseluruh peserta didiknya. Semangat dalam pengabdian dengan tidak hanya sekedar berharap materi dari hasil pengabdian, semangat dalam mendidik peserta didiknya dan mengantarkannya menjadi manusia yang mampu menghadapi masa depannya dengan berbagai tantangan yang ditemuinya. Kedua, suku kata kedua dari sekolah adalah KO, KO dapat kita artikan sebagai Komitmen. Ya, guru harus memiliki komitmen yang tinggi dalam menjalankan tugasnya.  Komitmen berarti bertindak, tidak hanya ketika itu nyaman atau tidak nyaman, tapi setiap kali itu diperlukan. Komitmen berarti menetapkan prioritas dan mengikuti mereka tanpa gagal. Komitmen berarti lebih dari kata-kata, lebih dari hanya mengatakan kita akan melakukan. Komitmen adalah melakukan apa saja untuk mewujudkannya. Demikianlah hendaknya seorang guru dimana komitmen guru merupakan kekuatan bathin yang datang dari dalam hati seorang guru dan kekuatan dari luar itu sendiri tentang tugasnya yang dapat memberi pengaruh besar terhadap sikap guru berupa tanggung jawab dan responsive (inavotif) terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Komitemen ini ditunjukkan dengan senantiasa antusias dalam melaksanakan tugas tugas yang diemban dan merasa bangga dengan tugasnya sebagai seorang guru serta bahagia dan terbuka dengan segala bentuk perubahan yang muncul.
Ketiga, suku kata ketiga dari sekolah adalah LAH, suku kata terakhir ini menjadi penyempurna dua suku kata sebelumnya, LAH dapat di artikan berbahagialah. Ya, seorang guru haru bahagia dalam menjalankan tugasnya, karena dengan bahagia ia akan dapat menunaikan tugasnya dengan baik, mengahadapi setiap tantangan, menghadapi setiap perubahan dengan kebahagian, bukan dengan rasa sekptis atau pesimis.
Rhonda Byrne, dalam bukunya the Secret, menyatakan: apa yang Anda pikirkan akan menarik pikiran serupa dan memantulkannya kembali . Pikiran yang sedang kita bayangkan saat ini sedang menciptakan kehidupan masa depan. Pikiran akan berubah menjadi sesuatu. Jika pikiran dipenuhi visualisasi yang sarat energi positif semangat hidup, keyakinan keberhasilan, kegembiraan, kegairahan, optimis yang meluap, ucapan syukur yang tak henti mengalir dan kemurahan hati maka jejak kehidupan akan membawa pada kebahagiaan hakiki.
Dan pada saat kita memahami makna kebahagian sebenarnya, maka akan senantiasa mengalir energy positif dari pikiran, perasaan, dan jiwa seorang guru dan dengan demikian maka aura kebahagian itu akan merambat keseluruh aspek yang melekat dalam diri seorang guru.


Guru yang sekolah adalah guru juara

Dibalik Keberhasilan seorang siswa dalam meraih kesuksesan tidak terlepas dari peran guru di sekolah. Seorang guru yang handal dengan segudang prestasi, tentu akan berbeda dengan guru tanpa kreativitas dan inovasi dalam meningkatkan kemampuan anak didiknya. Inilah sang guru juara, kehadirannya mampu menjadi inspirasi bagi seluruh peserta didikya. Guru juara adalah guru yang senantiasa ma uterus belajar dan menjadikan setiap keadaan perserta didiknya menjadi sarana untuk belajar.
Guru juara memandang setiap peserta didiknya adalah para juara, kemapuannya tidak terbatas dalam memberikan dan menerangkan mata pelajaran. Tapi mampu mengenergize setiap yang diajarkan menjadi pembelajaran penuh makna bagi perserta didiknya. Inilah guru sang juara itu. Guru seperti inilah yang dibutuhkan dalam menyiapkan generasi yang siap bersaing dalam kebangkitan ekonomi Indonesia.
Dalam sebuah tulisannya sodikin masrukhin dalam sebuah forum blog menuliskan, guru masa depan adalah guru yang mampu mempersiapkan anak didik untuk hidup di masa yang akan datang. Karena memang pendidikan adalah proses untuk menjawab tantangan ke depan. Oleh karenanya, guru harus kompeten dan menguasai hal-hal yang dibutuhkan demi mempersiapkan anak didik agar survive pada masanya dan sekaligus siap mengambil alih zaman. Semoga kedepan kita mampu menyiapkan guru guru yang siap mendidik dan menciptakan manusia yang berdaya saing.

Sumber bacaan
chatib, munif. Gurunya Manusia. Kaifa publishing: Bandung 2012
Moh. Yamin. Sekolah Yang Membebaskan. Madani: Malang 2012
Russel, Lou. The Accelerated Learning Fieldbook. Nusamedia: 2011
Byrne, Rhonda. The Secret. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2007


SHARE THIS

Author:

Terima kasih sudah membaca Blog SMP Juara Pekanbaru. Selalu berikan donasi anda kepada Rumahzakat.